Bukit Uhud menjadi saksi sejarah yang akan menceritakan bukti kepahitan dan kepedihan yang diderita kaum muslimin. Kekalahan menghadapi kaum kafir yang paling telak. Perih memang. Tapi itulah kenyataan yang harus diterima. Puluhan sahabat gugur sebagai syuhada. Puluhan lainnya terluka parah. Bahkan Rasulullah SAW sendiri mengalami banyak luka yang sangat memilukan. Hanya untuk sekedar shalat berjamaahpun Rasulullah dan kaum muslimin harus duduk, karena bagitu banyaknya luka yang menggores di tubuh mereka.
Showing posts with label Hikmah. Show all posts
Showing posts with label Hikmah. Show all posts
0
Bukit Uhud menjadi saksi sejarah yang akan menceritakan bukti kepahitan dan kepedihan yang diderita kaum muslimin. Kekalahan menghadapi kaum kafir yang paling telak. Perih memang. Tapi itulah kenyataan yang harus diterima. Puluhan sahabat gugur sebagai syuhada. Puluhan lainnya terluka parah. Bahkan Rasulullah SAW sendiri mengalami banyak luka yang sangat memilukan. Hanya untuk sekedar shalat berjamaahpun Rasulullah dan kaum muslimin harus duduk, karena bagitu banyaknya luka yang menggores di tubuh mereka.
Hikmah Sakit
Published at 10:53 PM in Hikmah
Bukit Uhud menjadi saksi sejarah yang akan menceritakan bukti kepahitan dan kepedihan yang diderita kaum muslimin. Kekalahan menghadapi kaum kafir yang paling telak. Perih memang. Tapi itulah kenyataan yang harus diterima. Puluhan sahabat gugur sebagai syuhada. Puluhan lainnya terluka parah. Bahkan Rasulullah SAW sendiri mengalami banyak luka yang sangat memilukan. Hanya untuk sekedar shalat berjamaahpun Rasulullah dan kaum muslimin harus duduk, karena bagitu banyaknya luka yang menggores di tubuh mereka.
4
Pagi itu saya sedang menunggu kopi cangkir yang sedang dibuatkan oleh istri. Jamil anak saya yang berumur 2 tahun berada dipangkuan sambil beberapa waktu bercanda. Tidak beberapa lama kopi cangkir favorit sudah terhidang dimeja tamu lengkap dengan sendok kecil disampingnya. Ketika saya bersiap mengaduknya terdengar suara Jamil, “Abi, ame aja Bi!”. Jamil berusaha meminta sendok itu dari tangan saya. “Ya udah, Jamil yang aduk, pelan-pelan ya!”, saya memberikan sendok tersebut dan memperhatikan tingkah Jamil. “Tuh, kan ame bisa Bi!”, jamil mengaduknya dengan berceloteh lucu. Tapi saya menegurnya, karena ternyata caranya mengaduk salah, yaitu dengan menggunakan bagian gagang sendok justru dibagian bawah. Jadi Jamil mengaduk kopi dengan posisi sendok terbalik. Tapi yang menjadi aneh adalah setiap saya berusaha membalik sendok tersebut, Jamil selalu berusaha membaliknya dengan berkata,”Jangan Bi!”. Akhirnya saya membiarkan kejadian itu berlalu dengan heran, ada apa dibalik kejadian tersebut.
Jamil dan Sendok Kopi
Published at 10:38 PM in Hikmah
Pagi itu saya sedang menunggu kopi cangkir yang sedang dibuatkan oleh istri. Jamil anak saya yang berumur 2 tahun berada dipangkuan sambil beberapa waktu bercanda. Tidak beberapa lama kopi cangkir favorit sudah terhidang dimeja tamu lengkap dengan sendok kecil disampingnya. Ketika saya bersiap mengaduknya terdengar suara Jamil, “Abi, ame aja Bi!”. Jamil berusaha meminta sendok itu dari tangan saya. “Ya udah, Jamil yang aduk, pelan-pelan ya!”, saya memberikan sendok tersebut dan memperhatikan tingkah Jamil. “Tuh, kan ame bisa Bi!”, jamil mengaduknya dengan berceloteh lucu. Tapi saya menegurnya, karena ternyata caranya mengaduk salah, yaitu dengan menggunakan bagian gagang sendok justru dibagian bawah. Jadi Jamil mengaduk kopi dengan posisi sendok terbalik. Tapi yang menjadi aneh adalah setiap saya berusaha membalik sendok tersebut, Jamil selalu berusaha membaliknya dengan berkata,”Jangan Bi!”. Akhirnya saya membiarkan kejadian itu berlalu dengan heran, ada apa dibalik kejadian tersebut.
Subscribe to:
Posts (Atom)